SUKOHARJO. Musyawarah Komisariat (Muskom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat KH Mas Mansur yang digelar pada 25-29 Desember 2024 menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi mahasiswa ini. Dengan mengusung tema “Bersama Dalam Sinergi Menuju Optimalisasi Kepemimpinan yang Progresif”, Muskom kali ini tidak hanya menjadi ajang pergantian kepengurusan, namun juga menjadi momen refleksi dan perencanaan strategis untuk masa depan.

Sejak berdiri pada 2011, IMM Komisariat KH Mas Mansur telah tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang aktif di Pesma KH Mas Mansur. Muskom kali ini menjadi bukti nyata dari semangat regenerasi dan kontinuitas kepemimpinan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Salah satu sorotan utama dalam Muskom adalah pemilihan Azhar Ardiansyah sebagai Ketua IMM Komisariat yang baru. Mahasantri ini membawa visi untuk memperkuat sinergi antara kader, meningkatkan kualitas program kerja, serta memperluas jejaring kerjasama dengan organisasi lain. “Saya mengajak seluruh kader untuk bersama-sama membangun IMM yang lebih baik,” ujar Azhar dalam pidato kemenangannya.

Selain pemilihan ketua, Muskom juga membahas evaluasi program kerja periode sebelumnya. Beberapa program seperti book party dari bidang RPK dan diskusi bulanan dari setiap bidang dinilai berhasil meningkatkan kapasitas kader dan memberikan kontribusi positif bagi mahasantri. Namun, ada pula beberapa program yang perlu ditingkatkan kualitasnya.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para peserta Muskom juga menyoroti tantangan yang dihadapi IMM saat ini, seperti peningkatan semangat berorganisasi para kader. Untuk menghadapi tantangan tersebut, peserta sepakat untuk memperkuat soliditas organisasi, meningkatkan literasi digital, serta mengembangkan program-program yang relevan dengan isu-isu terkini.

Muskom kali ini juga menjadi ajang silaturahmi antar kader dari berbagai angkatan. Suasana kekeluargaan dan semangat kebersamaan tercipta sepanjang acara. “Muskom ini bukan hanya sekadar rapat, tapi juga ajang untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman,” ujar dani , salah seorang peserta Muskom.

Dengan berakhirnya Muskom, IMM Komisariat KH Mas Mansur siap memasuki babak baru. Di bawah kepemimpinan Azhar Ardiansyah, diharapkan IMM dapat semakin berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

SUKOHARJO. International Student Organization (ISO) KH Mas Mansur sukses menggelar Musyawarah Besar (MUBES) ke-     pada tanggal 19-22 Desember 2024 di Community Building pesantren Internasional KH Mas Mansur, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini diawali dengan seminar bertema “Empowering Mental Health to Create Resilient Leaders”, menghadirkan narasumber psikolog berkompeten, Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S Psi., M. Psi., Psikolog. Seminar ini tidak hanya menjadi pembuka resmi MUBES, namun juga menyoroti pentingnya kesehatan mental bagi para pemimpin muda, sejalan dengan visi ISO dalam mencetak generasi pemimpin yang tangguh dan berintegritas.

MUBES ISO tahun ini memiliki makna yang sangat strategis. Selain menjadi ajang pertanggungjawaban kepengurusan periode 2024, kegiatan ini juga menjadi momentum regenerasi kepemimpinan. Proses pemilihan ketua umum yang berlangsung demokratis menghasilkan Bagas Ali Mukti (mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam Angkatan 2022) sebagai nahkoda baru ISO periode 2025. Dalam pidato sambutannya, Bagas menyampaikan visi dan misi kedepannya, yang antara lain fokus pada peningkatan kualitas program kerja, pengembangan jejaring internasional, serta penguatan kapasitas anggota. Salah satu program unggulan yang akan dijalankan adalah pembentukan departemen tahfid, yang bertujuan untuk memfasilitasi mahasantri dalam mendalami ilmu Al-Quran.

Ketua umum periode sebelumnya, Salis Nazla, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung selama masa kepemimpinannya. Salis juga memberikan pesan kepada pengurus baru agar terus menjaga semangat solidaritas, inovasi, dan dedikasi dalam menjalankan amanah organisasi. Salis juga memberikan evaluasi terhadap program-program yang telah berjalan selama periode kepemimpinannya, serta memberikan masukan-masukan yang konstruktif untuk periode selanjutnya.

MUBES ISO 2024 tidak hanya menjadi ajang formalitas, namun juga menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi antar anggota. Berbagai kegiatan menarik seperti diskusi kelompok, workshop kepemimpinan, dan malam keakraban turut memeriahkan acara. Melalui MUBES ini, diharapkan ISO dapat semakin solid dan berkontribusi aktif dalam pengembangan pesantren Internasional KH Mas Mansur, khususnya dalam bidang internasionalisasi dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

(Liz)

Oleh Azhar Ardiansyah (Kader PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)

Didalam penjara suci Pesantren Mahasiswa saya melihat kabar pendaftaran calon filsuf baru. Sebuah agenda perkaderan dari PC IMM Sukoharjo yang terkernal seantero nusantara. Bermodalkan buku tebal yang memuakkan meski kutatapi semalaman. Didampingi oleh sahabat yang tak setia karena meninggalkanku seorang diri. Mengajakku sama-sama berambisi namun hanya sebatas narasi. Hingga aku berangkat seorang diri dengan jasmani dan ruhani. Aduhai inikah perkaderan dengan durasi dua minggu yang harus aku jalani?

Sebuah pertanyaan sulit menghantuiku di awal perjumpaan. Kata tanya sederhana yang berbunyi “apa dan bagaimana itu?” Pernahkah kalian memandang bagaimana semesta ini ada? Semesta dengan aneka warna nan harmoni ini berbaur menjadi satu. Dari manakah semua ini berasal? Thales, seorang saudagar kaya menjawab, “Semua itu dari air dan akan kembali lagi ke air” Lihatlah masyarakat mesir yang bertahan hidup diatas gurun yang panas nyaris tanpa harapan. Seolah dipanggang di atas pemanggang. Sumber harapan satu-satunya ialah air yang melepaskan dahaga mereka dari anak-anak Sungai Nil. Disinilah makna air sebagai sumber kehidupan muncul. Namun, jika kehidupan muncul dari air, lantas dari manakah asal air itu? Anaximandros menjawab, “Semua berasal dari yang tak terbatas.” Setetes air menjadi nirmakna jika fana. Sebab yang terbatas akan selalu habis dan terproduksi lagi. Harus ada yang memproduksinya, ialah Sang Tak Terbatas (Apeiron). Lantas apa Sang Tak Terbatas (Apeiron) itu? Jika tak terdefinisikan akan menjadi hal yang konyol untuk dibahas. Tak mungkin menjelaskan sesuatu yang tak jelas! Apa bedanya dengan mitos-mitos orang dungu sebelum mereka?

Anaximenes menjawab, “Udara!” Sebab ialah yang tak terbatas yang dapat didefinisikan. Kita hidup sehari-hari dengan udara. Udaralah yang memberikan kehidupan bermakna bagi seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan. Dialah yang anasir awal pembentuk semesta ini! Dialah jiwa yang kita hirup dalam setiap relung nafas sehingga kita masih bisa hidup hingga detik ini! Perdebatan terus berkecamuk hingga manusia mulai muak dengan mana yang benar dan mana yang salah. Sudahi perdebatanmu itu kawan! “Tak ada kebenaran yang sejati!”, seru segerombolan orang cerdik yang masyhur dikenal dengan Kaum Sofis. Mereka muncul sebagai reaksi atas perdebatan nirmakna itu. Lantas apakah kebenaran itu?

“dunia idea” Ya, dua diksi yang menuntut para calon cendekiawan mengilustrasikan bagaimana sebenarnya kita yang sedang terperangkap dalam gua menurut kacamata plato. Begitu absurdnya hidup dalam dialektika. Delegasi dari setiap komisariat IMM seperti tidak berdaya bahkan setelah mendengar bernadya. Aristoteles dengan sylogisme nya menuntut kita agar mencari kebenaran objektif menggabungkan induksi, deduksi ditambah hipotesa-hipotesa dan digabungkan dengan 10 kategori miliknya. Aduhai serumit inikah memvalidasi orang sedang kelaparan dengan rumus yang ia berikan?

Diskusi dihentikan menimbang urusan konsumsi. Sebab logika tanpa logistik takkan berjalan. Jadwal memasak telah memanggilku untuk mengolah bahan pangan. Semua sudah dijadwalkan sesuai prosedur panitia Baret Merah. Delapan belas cendekiawan dan lima fasilitator kelaparan. Beralih ke era abad 15 di Italia sebagai reaksi “abad kegelapan” di era sebelumnya yang berakibat kemunduran pengetahuan. Kemudian terbitlah “kelahiran kembali” pengetahuan yang disebut Renaisance. Berbasis data bukan keputusan gereja. Lantas, apa fungsi gereja? Tidak lain sebagai alat legitimasi religiusitas demi kontestasi politik. Gagasan tersebut muncul dari seorang politikus Machiavelli. Berbekal dari sejarah-sejarah dan tragedi yang dia pelajari satu persatu.

 

Kepala delapan belas orang peserta mulai pusing ketika pembahasan era Renaisance muncul segerombolan tokoh yang melahirkan aliran-aliran aneh. Dualisme antara akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Dua kubu ini saling bertengkar untuk menentukan bagaimana pengetahuan sejati didapat. Melalui akal (rasio) kah? Atau pengalaman (empiris)? Kubu akal (rasio) diwakili oleh Rene Descartes beserta pengikutnya. Sedangkan kubu pengalaman (empiris) diwakili oleh John Locke beserta pengikutnya.

Cukup! Tak perlu berdebat! Keduanya sama-sama benar menurut Immanuel Kant. Tapi konyolnya, dia tak mengakui bahwa kita benar-benar menggapai pengetahuan objektif. Akal (Rasio) dan pengalaman (empiris) hanya sebatas alat penafsir. Namun, ada satu tokoh yang tak terima, namanya Hegel. Dia mengatakan sebenarnya seluruh proses sedang mencapai kesempuranaan objektif melalui dialektika yang berjalan dalam sejarah. Hegel adalah seorang dosen yang berdedikasi tinggi yang memiliki mahasiswa pemberontak bernama Karl Marx. Sebab Karl Marx risau dengan tokoh-tokoh aneh itu. Mengapa membahas hal-hal abstrak tidak jelas! “Tugas sejati seorang filsuf adalah merubah dunia, bukan menafsirkan dunia”, katanya.

Disudut kota terpencil tertawalah seorang seniman gila. Nietszche meniadakan semua teori yang saya tulis dari awal hingga saat ini. Nihilsme menghantui para pemikir-pemikir hebat! Ketidakadaan kebenaran mutlak menjadi pondasi hidupnya. “Tuhan telah mati dan kita telah membunuhnya!” Narasi dari sang maestro sebagai metafora untuk menggambarkan runtuhnya kepercayaan tradisional, terutama agama Kristen dalam masyarkat modern. Ia berpendapat bahwa dunia barat tidak lagi mendasarkan moralitas dan nilai-nilai pada keyakinan religious sehingga menimbulkan kekosongan nilai yang harus diisi.

Apakah goyah keimanan kita sebagai kaum muslimin menghadapi teori yang diberikan bapak Nietzsche? Ya kita tidak memungkiri keimanan kita diuji disana. Ketika manusia senantiasa berpatokan kepada hal-hal yang metafisik sehingga realitasnya didunia seakan-akan tidak dipedulikan! Dogma tentang hari pembalasan menjadi pelarian masyarakat miskin yang percaya mereka akan mendapat kenikmatan disana. Ya agama begitu kompleks menghadapi teori akal (rasio) dan pengalaman (empiris) karena agama berbasis keimanan. Pekak menusuk telingaku, nyanyian surau begitu merdu, senja pun sirna digantikan rembulan yang cantik nan indah, pertanda shalat maghrib tiba. Simpan dulu semua ocehanmu, menarik pena lantas menutup buku, waktunya mengambil air wudhu. Delapan belas jiwa berdiri menghadap penciptanya, memberikan persembahan terbaik kepada tuhan-Nya. Bahkan, percaya atau tidak, seorang yang diprediksi akan menjadi atheis pun ikut dalam barisan ritual wajib untuk membersihkan jiwa yang kotor ini.

Tak terasa dua pekan berlalu, seperti tak ingin usai, tetapi awal mesti memiliki akhir. Malam yang sunyi tanpa ada dialektika diantara kita. Sebenci inikah dengan perpisahan? Pada akhirnya aktivitas pencerdasan ini memberikan makna bagaimana kita hidup harus memiliki makna. Apakah kita akan mati hanya membawa duka, atau membawa makna? Akankah diatas batu nisan hanya menggores nama, tetapi juga diatas kertas kita menggores tinta. Ya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Entah dengan diksi apa saya menggambarkan wujud terimakasih kepada panitia, suatu saat dan penuh harap pasti kami akan memberikan dedikasi penuh pada nusa dan bangsa.

Sukoharjo, 22 Desember 2024

Oleh Dani Hendrawan (Kader PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)

Terjun ke dunia akademis dan spiritual merupakan Keunikan Mahasantri sebagai mahasiswa menyelaraskan dan menyatukan dunia akademis dan spiritual di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi yang semakin menggerogoti kehidupan rohani. Salah satu tempat yang mencoba mewujudkan integrasi ini adalah Pondok Internasional KH. Mansur UMS merupakan sebuah pondok asrama yang berada dibawah naungan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pondok pesantren ini diperuntukkan bagi para santri yang tidak hanya sekedar menempuh pendidikan akademis namun juga ingin memperdalam ilmu agama dalam suasana khas pesantren. Di sini, Mahasantri (sebutan para santri yang tinggal di pondok ini) pun memadukan dua dunia, dunia akademis dan spiritual, untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan sekaligus penuh berkah.

Dua dunia dalam satu langkah nampaknmya cocok dilekatkan menjadi identitas kami, karena kehidupan mahasantri di Pondok Internasional KH. Mas Mansur UMS bukanlah tipikal pesantren tradisional. tetapi sebagai sekolah berasrama bagi pelajar, disini ditawarkan pengalaman unik dimana mahasiswa dapat menikmati kehidupan sekolah berasrama tanpa harus melepaskan studinya. Sebagai bagian dari UMS, Mahasantri tidak hanya menyelesaikan kajian agama secara mendalam, tetapi juga mengikuti perkuliahan di universitas dan memperdalam ilmunya di berbagai bidang keilmuan. Kehidupan di Pondok KH. Mas Mansur UMS mengharuskan mahasiswanya memainkan dua peran sekaligus, disaat sebagian mahasiswa harus menghadapi tantangan akademik di kampus, sebagian lainnya tetap berpedoman pada ajaran agama dan terus memperkuat spiritualitas dan karakternya. Kedua dunia yang tampak berbeda ini sebenarnya saling melengkapi dan memberikan Mahasantri pengalaman komprehensif dalam kehidupan sehari-hari.
Dunia Akademik mengasah mengembangkan berpikir kritis dalam nilai-nilai keagamaan sebagai mahasiswa UMS, para mahasantri berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan dari berbagai departemen di universitas. Dari hukum, bisnis,kesehatan, hingga teknologi, anda dapat mengembangkan pemikiran kritis dan keahlian di bidang-bidang ini. anda akan belajar berpikir logis, memecahkan masalah dengan pendekatan rasional, dan mendorong inovasi di masa perkembangan yang pesat.

Namun, tantangan terbesar yg dihadapi oleh para mahasantri muncul.. bagaimana mengintegrasikan ilmu pengetahuan yg mereka pelajari pada kampus dengan ajaran kepercayaan yg mereka pelajari pada pesantren. Dalam global akademis, mahasiswa dituntut untuk memakai pendekatan ilmiah yg rasional, tetapi pada global spiritual, mereka dituntut juga untuk berpikir menggunakan hati, mengedepankan nilai-nilai iman, dan membuahkan kepercayaan menjadi panduan hidup. Bagi mahasantri, keduanya tidak bertentangan. Justru, kehidupan akademis yg mereka jalani bisa menaruh perspektif dalam memahami ajaran agama , dan sebaliknya, nilai-nilai agama menaruh dasar moral yang memperkuat dalam menghadapi tantangan global akademis. sebagai contoh, dalam menghadapi kasus sosial atau isu-isu global yang semakin kompleks, para mahasantri tidak hanya melihatnya menurut sudut pandang akademis semata, namun juga mempertimbangkan prinsip-prinsip agama yang mengajarkan mengenai keadilan, kesejahteraan umat, dan tanggung jawab sosial. Pemikiran kritis yang mereka bangun di kampus dipadukan dengan kedalaman spiritualitas yang mereka temukan di pesantren, sehingga dapat menciptakan individu yang lebih utuh, berpikir jernih, dan memiliki moral yang tinggi.

Dunia spiritual menguatkan karakter dan membentuk akhlak mulia. Meskipun para mahasantri menjalani kehidupan akademis yang padat di universitas, mereka tidak dituntut untuk melupakan aspek spiritual dalam kehidupan mereka. Di Pondok KH. Mas Mansur UMS, waktu dimana untuk ibadah, mengaji, serta mengikuti kajian-kajian agama tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka. Sebagai pondok asrama bagi mahasiswa, sistem pendidikan di sini tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki ketakwaan yang tinggi. Setiap hari, para mahasantri menjalani rutinitas ibadah yang disiplin, misalnya salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan kajian-kajian keagamaan menaruh pemahaman yang lebih mengenai ajaran Islam. Di tengah kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya, mereka diajarkan untuk tidak melupakan pentingnya menjaga interaksi ibadah dan selalu mengutamakan nilai-nilai keagamaan pada setiap rutinitas yang mereka jalani. Spiritualitas yang mereka bangun di pondok juga menaruh ketenangan batin yang sangat diperlukan dalam menghadapi kesulitan hidup. Kita tau sendiri sebagai mahasiswa yang tak jarang dihadapkan dalam tekanan akademis, tugas-tugas yang menumpuk, dan aneka macam tantangan lainnya, penguatan spiritual sebagai pelindung yang membantu mereka menjaga ketenangan hati dan pikiran. Dalam doa dan dzikir, mereka menemukan kekuatan untuk terus maju, tanpa merasa stress atau terjerumus kepada kemaksiatan duniawi.

Keunikan dan tantangan mengelola peran ganda dengan bijaksana, menjalankan peran ganda sebagai seorang mahasantri tentunya bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu antara komitmen mahasiswa dan kewajiban sebagai santri. Perkuliahan dan berbagai tugas yang membutuhkan perhatian penuh, ujian, dan aktivitas di kampus seringkali membuat mahasiswa stress tertekan. Namun, jika dapat mengatur waktu dengan baik, kita akan belajar membagi waktu antara jam pelajaran, kegiatan pesantren, dan waktu istirahat. Selain itu, perbedaan pemikiran antara dunia akademis yang rasional dan dunia spiritual yang lebih berbasis pada keimanan juga sering kali menjadi tantangan. Namun seiring berjalannya waktu, mahasantri belajar menyeimbangkan keduanya, dari ilmu dunia serta ilmu akhirat menjadi dua hal yang saling menguatkan. Mereka diajarkan untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut bukan sebagai kontradiksi, namun sebagai peluang untuk memperdalam pemahaman dan mengembangkan kepribadian yang lebih dewasa. Ini adalah bukti kalau banyaknya waktu yang kita punya, itu tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas yang kita hasilkan. Dari perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa aku mahasiswa dan dimana kalau mahasiswa pada umumnya itu balik ke rumah atau ke kosan. aku balik ke asrama dan kamu tau sesibuk apa, disamping harus mengerjakan tugas kuliah yang kadang ga ngotak, aku juga harus menyiapkan setoran dan sibuk sama kegiatan asrama aku ini setiap hari kecuali sabtu minggu. Eksperimen ini berawal dari pemikiran liar aku.. yang bilang ‘‘kalau aku punya waktu yang lebih longgar daripada ini, kayaknya aku bisa lebih produktif” akhirnya aku menggunakan hari minggu aku untuk bisa super produktif, untuk sesuatu yang benar-benar aku inginkan dari pagi buta niatnya, dan kamu tau apa yang terjadi aku memulai kegiatan itu semua setelah zuhur. Dan kamu tau lah apa yang aku lakukan dari pagi scroll dan bermalas-malasan dan parahnya adalah 14.00 siang aku tidur, berharap bisa produktif setelah bangun tidur. Ternyata mengumpulkan mood-nya lama, karena kau merasa malam masih punya waktu, aku tunda ke malam dan akhirnya adalah ada hal-hal yang diluar dugaan terjadi di malam itu sehingga aku tidak bisa melakukan hal tersebut.dan itu semua berawal dari pemikiran bahwa ‘aku masih punya banyak waktu’ dan ternyata apa yang aku rasain ini udah proven. Ada yang namanya parkinson’s law dimana semakin banyak waktu yang kita punya kita justru kurang produktif, sebaliknya semakin sedikit waktu yang kita punya justru produktivitas kita itu akan meningkat. Maybe that’s why the power of kepepet is real. Bukan karena otak kita berubah jadi kayak Einstein tapi karena sedikitnya waktu yang kita punya, kita curahin semua yang kita punya saat itu detik itu.

Mahasantri sebagai generasi keutuhan dan integritas menjadi mahasantri di pondok Internasional KH. Mas Mansur UMS adalah perjalanan unik yang penuh tantangan, namun juga penuh dengan peluang. Melalui sistem pendidikan yang memadukan ilmu agama dan akademik, Mahasantri dipersiapkan untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak mulia, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Mereka menunjukkan bagaimana pendidikan yang seimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat dapat menghasilkan generasi yang sempurna berpikir kritis dan bertakwa tinggi. Kehidupan mereka di kampus dan di Pondok Pesantren mencerminkan kemungkinan-kemungkinan luar biasa yang muncul ketika dunia akademis dan dunia spiritual bersatu untuk saling menguatkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan mereka di masa depan.

Oleh Annisa Nur Fitria (Sekbid LHI PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)

Peristiwa yang terjadi belakangan ini, membuat hati tersayat dan miris akan berkembangnya zaman sekarang. Semakin zaman berkembang, semakin hilang pula adab yang harusnya selalu dijunjung tinggi oleh setiap insan di muka bumi ini. Bagaimana tidak,seorang Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama Dan Pembinaan Sarana Keagamaan serta tokoh agama terkenal mengolok-olok seorang penjual es teh dalam suatu acara yang dihadiri oleh khalayak banyakhanya karena ia berprofesi sebagai penjual es teh. Hal ini menjadi pelajaran berharga yang patut kita renungkan dan dari kejadian ini, kita diingingatkan bahwa ilmu, setinggi apapun akan hilang maknanya jika tidak diiringi dengan adab yang baik.

Adab merupakan fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap indvidu sebelum menuntut ilmu. Dalam tradisi islam, adab memiliki posisi yang lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Hal ini mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab dapat menjadi alat yang merugikan, sedangkan adab yang baik akan membuat ilmu bermanfaat dan membawa keberkahan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sejarah para ulama besar menunjukkan bahwa keberhasilan mereka bukan semata karena ilmu yang mereka miliki, tetapi juga karena adab yang mereka jaga dalam setiap langkah hidupnya.

Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Malik RA, beliau berkata “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu” . pernyataan ini menegaskan bahwa adab adalah dasar bagi seseorang untuk menerima, memahami, dan mengamalkan ilmu dengan benar. Seorang yang memiliki adab akan menghormati ilmu, menghormati guru, dan memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan. Sebaliknya, ilmu tanpa adab sering kali membawa seseorang pada kesombongan, merendahkan orang lain, dan bahkan merusak dirinya sendiri.

Adab menjadi pengendali bagi hati dan akal dalam menggunakan ilmu. Tanpa adab, seseorang yang pandai justru dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan. Ia mungkin merasa lebih tinggi daripada orang lain karena ilmunya, padahal ilmu sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan rendah hati.

Salah satu bentuk adab yang sangat penting dalam menuntut ilmu adalah adab terhadap guru. Dalam sejarah Islam, para ulama selalu menekankan penghormatan kepada guru sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri. Imam Syafi’i, misalnya, begitu menghormati gurunya hingga ia membalikkan halaman kitab di depan gurunya seperti memindahkan sayap kupu-kupu karena takut dianggap tidak sopan. Sikap ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan Imam Syafi’i terhadap gurunya. Adab seperti ini tidak hanya memperlihatkan rasa hormat, tetapi jugamembuka jalan bagi keberkahan ilmu yang beliau peroleh.

Adab terhadap ilmu juga berarti menjaganya dari penyalahgunaan. Ilmu yang dimanfaatkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak tatanan masyarakat. Oleh karena itu, orang yang memiliki adab akan selalu berusaha menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan dan tidak untuk kepentingan pribadi semata.

Keberkahan ilmu terletak pada bagaimana ilmu tersebut diperoleh dan diamalkan. Adab yang baik membuat seseorang mampu menerima ilmu dengan hati yang lapang dan mengamalkannya dengan penuh tanggung jawab. Sejarah mencatat bahwa para ulama yang memiliki adab yang baik tidak hanya dihormati karena kepintarannya, tetapi juga karena akhlak dan keteladanan mereka dalam kehidupan.

Seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama besar terkenal karena adabnya kepada Imam Syafi’i, yang juga merupakan gurunya. Ketika Imam Syafi’i berkunjung ke rumahnya, Imam Ahmad memperlakukan gurunya dengan penuh hormat. Diceritakan bahwa Imam Ahmad bahkan menyiapkan air untuk wudu gurunya sebelum waktu subuh tiba. Sikap ini menunjukkan bagaimana Imam Ahmad sangat menghormati gurunya, meskipun ia sendiri adalah seorang ulama besar yang dihormati oleh banyak orang. Selain itu, Imam Ahmad dikenal sangat memperhatikan katakatanya di hadapan gurunya. Beliau tidak pernah berani berbicara atau bertanya tanpa izin, sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan ilmu yang diajarkan. Sikap ini menjadi teladan bagi generasi berikutnya tentang pentingnya menjaga adab terhadap orang yang lebih berilmu.

Imam Ahmad bin Hanbal menjadi bukti nyata bahwa ilmu tanpa adab tidak akan bernilai, sementara adab yang tinggi dapat mengangkat derajat seseorang, bahkan melebihi apa yang diberikan oleh ilmu itu sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari).

Adab tidak hanya berfungsi sebagai pengantar untuk memperoleh ilmu, tetapi juga sebagai penjaga ilmu itu sendiri. Seseorang yang memiliki adab akan lebih bijak dalam menggunakan ilmunya. Ia tidak akan memamerkan ilmunya untuk mendapatkan pujian, tetapi menggunakannya untuk menebar manfaat. Sebaliknya, tanpa adab, ilmu dapat menjadi alat untuk menyombongkan diri atau bahkan menghancurkan dan menyakiti orang lain. Banyak tragedi dalam sejarah terjadi karena orang-orang yang berilmu tetapi kehilangan adabnya. Mereka menggunakan kepintarannya untuk mengeksploitasi orang lain atau mencapai tujuan yang tidak mulia.

Adab merupakan inti dari segala pembelajaran. Ia bukan hanya pelengkap, tetapi syarat utama bagi penuntut ilmu agar ilmu yang telah didapatkan dapat memberikan manfaat dan keberkahan. Tanpa adab, ilmu kehilangan arah dan makna. Oleh karena itu, ada baiknya sebelum berusaha memperdalam ilmu, setiap individu harus memastikan bahwa dirinya memiliki adab yang baik. Dengan adab, ilmu tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menyempurnakan akhlak dan membawa keberkahan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana pesan para ulama, “Adab di atas ilmu” adalah prinsip yang harus dipegang erat dalam setiap perjalanan menuntut ilmu.

Daftar Pustaka
Huda, M., Yusuf, J. B., Azmi Jasmi, K., & Nasir Zakaria, G. (2016). Al-Zarnūjī’s concept of
knowledge (‘Ilm).
SAGE Open, 6(3), 2158244016666885.
Himmah, R. H., Jauhari, I. B., & Asror, A. (2023). ADAB SEBAGAI AKTUALISASI ILMU
PADA KONSEP ISLAM.
Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan
Pemikiran Hukum Islam
, 14(2). https://doi.org/10.30739/darussalam.v14i2.1837
Husaini, A. (2012). Makna”Adab”dalam Perspektif Pendidikan Islam.
Ta’dibuna: Jurnal
Pendidikan Islam
, 1(1).
Ruswandi, Y., & Wiyono, W. (2020). Etika Menuntut Ilmu Dalam Kitab Ta’lim
Muta’alim.
Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan (JKPI), 4(1), 90-100.

Penulis : Abu Salim (Ketua Umum PK IMM KH Mas Mansur periode 2016)

Pernahkah kita merasa hati ini terasa berat? Mungkin karena kesibukan, rasa iri, atau sulit memaafkan? Dalam Islam, hati yang lembut adalah cerminan jiwa yang bersih, dan hal ini tidak hanya penting secara spiritual tetapi juga berdampak pada hubungan sosial kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Maka, pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bahas bagaimana penerapannya secara sederhana.

Pertama, Mengenali Dosa dan Kesalahan Pribadi
Langkah pertama untuk membersihkan jiwa adalah dengan mengenali dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam itu berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Renungkan tindakan kita setiap hari. Apakah kita pernah menyakiti orang lain? Apakah ada amanah yang kita abaikan? Menyadari kesalahan adalah langkah awal menuju perubahan.
Tips/Langkah Praktisnya:

  1. Sisihkan waktu sebelum tidur untuk muhasabah (introspeksi diri).
  2. Mengingat dosa-dosa kecil dan besar yang mungkin kita lakukan, kemudian berusaha tidak mengulanginya.

Kedua, Memperbanyak Istighfar dan Dzikir
Istighfar adalah kunci untuk membersihkan hati. Allah SWT berjanji dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3). Selain itu, dzikir juga membantu menjaga hati agar tetap tenang dan bersih dari penyakit hati seperti iri atau sombong.

Tips/Langkah Praktisnya:

  1. Ucapkan istighfar minimal 100 kali sehari.
  2. Jadikan dzikir ringan seperti “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar” sebagai bagian dari rutinitas, misalnya saat berjalan atau menunggu.

Ketiga, Menjaga Hubungan Baik dengan Sesama
Hati yang lembut akan terlihat dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tips/Langkah Praktisnya:

  1. Belajar memaafkan meski terasa sulit. Ingat, memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri.
  2. Perbanyak sedekah, meskipun kecil, sebagai wujud kasih sayang kepada sesama.

Keempat, Mengurangi Hal-Hal yang Mengotori Jiwa
Keseharian kita dipenuhi hal-hal yang bisa “mengotori” jiwa, seperti tontonan yang tidak bermanfaat, gosip, atau berbicara kasar. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan penglihatan dari hal-hal buruk.

Tips/Langkah Praktisnya:

  1. Hindari tontonan atau bacaan yang tidak membawa manfaat.
  2. Latih diri untuk berbicara yang baik atau diam, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, Mendekatkan Diri pada Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah obat hati. Allah SWT berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82) Membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih.

Tips/Langkah Praktisnya

  1. Jadwalkan waktu harian untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat.
  2. Pelajari terjemah atau artinya agar lebih memahami maknanya.

Sebagai penutup, mari renungkan nasihat Ibnul Qayyim Al-Jauziyah: “Dalam hati manusia terdapat kekerasan yang tidak bisa dilembutkan kecuali dengan menghadap kepada Allah.”
Membersihkan jiwa adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Hati yang bersih akan membawa ketenangan dalam diri dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik di mata Allah dan manusia. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk terus membersihkan jiwa dan melembutkan hati. Aamiin… Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:
1. Al-Qur’an dan terjemahannya.
2. Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi.
3. Ihya Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali.
4. Madarij As-Salikin oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.

KARANGANYAR. Internasional Student Organization atau akrab disingkat ISO adakan pelatihan dan bounding bersama para piminan dan kadernya guna merefleksikan dan menyiapkan kepemimpinan baru. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7-8 Desember di Villa Alamanda Tawangmangu Karanganyar. Kegiatan ITC mengambil tema “Menggali kekuatan dalam persatuan, Eksplorasi Dinamika Organisasi”. Kegiatan ini di hadiri oleh 30 peserta yang terdiri dari pengurus ISO dan Management Trainee ISO KH Mas Mansur.

Kegiatan ITC di awali dengan kegiatan sharing alumni atau demisioner ISO periode 2017 dan demisioner periode 2020, kemudian dilanjut dengan kegiatan diskusi tentang isu keberlangsungan dan tantangan yang akan di hadapi oleh kepengurusan periode selanjutnya. “menjadi pengurus ISO itu bukan hanya tentang melaksakan program kerja, namun juga mampu menjadi Qudwah atau contoh yang baik bagi mahasantri yang lain” ucap mbak Silvi (demisioner 2017), selain itu satu hal yang perlu diperhatikan juga menurut mas Toyib selaku pembicara adalah menjadi pengurus ISO juga harus siap pada aspek perubahan dan menyikapi perubahan, karena menjadi pengurus memaksa kita untuk bergerak dinamis.

Kegiatan ITC diketuai oleh Akmal Haris Ramadhan, ketua departemen Keamanan ISO periode 2024. Saat di wawancarai, Akmal mengatakan bahwa harapannya kegiatan ITC ini dapat mengasah kemampuan problem solving baik pagi piminan maupun MT ISO. Selain itu ITC juga diharapkan menjadi ajang mengakrabkan diri antara pengurus ISO dan MT nya. Diketahui bersama bahwa, MT atau Management Trainee merupakan kader yang akan meneruskan kepengurusan ISO pada periode mendatang. (Liz)

Oleh Maufi Nailatun Nazza Sekbid IMMawati periode 2024

Aku hidup dalam dualitas—di satu sisi ingin menjadi produktif, di sisi lain terjebak dalam kebiasaan menunda. Prokrastinasi bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan teman lama yang selalu datang di saat yang paling tidak tepat. Ia menyelinap dengan halus, membisikkan kata-kata yang terasa nyaman: “Nanti saja. Masih banyak waktu. Kamu butuh istirahat.” Dan aku, seperti seseorang yang lelah bertarung, sering kali menyerah tanpa perlawanan.

Setiap pagi, aku bangun dengan niat besar: “Hari ini aku akan menyelesaikan semuanya!” Aku menuliskan daftar tugas yang panjang, dengan semangat yang tinggi. Tapi semangat itu cepat memudar saat aku menghadapi tugas pertama. Sebuah laporan, presentasi, atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti menjawab email. Aku menatapnya, dan tiba-tiba segalanya terasa berat.

Aku mencari pelarian—membuka media sosial, menonton video pendek, atau sekadar duduk termenung. Jam berdetak, tetapi aku tetap diam. Ada rasa puas yang aneh saat aku menunda, seolah-olah aku berhasil menghindari beban sementara. Namun, di balik rasa puas itu, ada kecemasan yang perlahan-lahan menyusup.

Hari berlalu, dan tugas yang kuabaikan mulai menumpuk. Deadline mendekat, dan aku mulai merasakan tekanan yang tak terelakkan. Pikiranku penuh dengan kekhawatiran: “Bagaimana jika aku tidak bisa menyelesaikannya?” “Bagaimana jika hasilnya tidak sesuai harapan?” Aku tahu aku harus mulai sekarang, tetapi entah kenapa tubuh ini tetap diam.

Ketika akhirnya aku mulai, biasanya sudah terlalu terlambat. Aku bekerja dengan panik, tergesa-gesa, dan tanpa fokus penuh. Tidak ada waktu untuk memeriksa ulang atau memperbaiki kesalahan. Aku hanya berharap bisa menyelesaikannya tepat waktu. Dan saat tugas selesai, aku merasakan lega yang bercampur penyesalan.

“Seandainya aku mulai lebih awal.” Pikiran itu selalu datang, tapi tidak pernah cukup kuat untuk mengubah kebiasaan. Aku berjanji pada diri sendiri: “Besok aku akan lebih baik.” Namun, besok datang, dan aku kembali terjebak dalam lingkaran yang sama. Prokrastinasi tidak hanya mengambil waktuku, tetapi juga energiku. Aku merasa lelah bukan karena bekerja, tetapi karena menunda. Kelelahan mental itu datang dari kecemasan yang terus-menerus, dari tekanan yang aku ciptakan sendiri. Aku sadar bahwa ini bukan hidup yang ingin aku jalani.

Aku mulai mencari solusi. Aku membaca artikel tentang manajemen waktu, mendengarkan podcast motivasi, dan mencoba berbagai teknik. Salah satu teknik yang paling sederhana namun efektif adalah “aturan lima menit.” Aku berkata pada diriku sendiri: “Mulai saja selama lima menit.” Lima menit terasa ringan, tidak terlalu menakutkan.
Dan ajaibnya, lima menit itu sering berubah menjadi lima belas, tiga puluh, hingga satu jam. Ternyata, langkah pertama adalah yang paling sulit. Setelah aku mulai, segalanya terasa lebih mudah. Aku mulai menyelesaikan tugas-tugas kecil, satu per satu, dan perlahan-lahan merasa lebih baik.

Aku juga belajar untuk menerima bahwa aku tidak perlu sempurna. Salah satu alasan aku menunda adalah karena takut hasilnya tidak sesuai harapan. Aku ingin semuanya sempurna, tetapi kesempurnaan adalah ilusi. Lebih baik menyelesaikan sesuatu dengan baik daripada tidak menyelesaikan sama sekali.

Ada hari-hari di mana aku merasa menang. Aku menyelesaikan tugas sebelum deadline, merasa puas, dan tidur dengan tenang. Tapi ada juga hari-hari di mana aku kembali kalah. Aku menunda, panik, dan menyelesaikan segalanya di menit-menit terakhir. Namun, kini aku belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.

Aku sadar bahwa perubahan adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Aku tidak akan menjadi seseorang yang sempurna dalam mengelola waktu dalam semalam. Tapi aku bisa menjadi sedikit lebih baik setiap hari. Sedikit demi sedikit, aku bisa keluar dari lingkaran ini. Karena setiap langkah kecil yang kuambil adalah bukti bahwa aku sedang bergerak maju, bukan terjebak di tempat yang sama.

Aku juga menyadari bahwa prokrastinasi adalah bagian dari diriku. Aku tidak bisa menghilangkannya sepenuhnya, tapi aku bisa belajar untuk mengendalikannya. Aku bisa berdamai dengannya, menjadikannya sebagai pengingat bahwa aku adalah manusia yang tidak sempurna.

Perang ini mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Tapi aku tidak akan menyerah. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk melawan, untuk mencoba lagi. Dan selama aku terus mencoba, aku tahu aku masih berada di jalur yang benar. Meski jalannya lambat, aku percaya bahwa konsistensi akan membawaku menuju kemenangan.

Waktu adalah aset yang paling berharga, dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya lagi. Aku ingin hidup dengan lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih berani menghadapi tantangan. Karena pada akhirnya, perjuangan melawan prokrastinasi adalah perjuangan untuk menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Dan meskipun jalan ini panjang dan penuh rintangan, aku akan terus berjalan. Langkah demi langkah, hari demi hari, aku akan menjadi lebih baik. Karena aku percaya, setiap kemenangan kecil adalah langkah menuju perubahan besar. Setiap proses, seberat apa pun, adalah bagian dari perjalanan yang mendewasakanku.

Prokrastinasi mungkin adalah musuh yang kuat. Tapi aku juga tidak kalah kuat. Aku adalah prajurit yang tidak akan menyerah, meski pertempuran ini berlangsung seumur hidup. Dan itu sudah cukup bagiku untuk terus berjuang. Karena yang terpenting bukan seberapa cepat aku mencapai tujuan, tetapi seberapa gigih aku bertahan dan melangkah maju.

Surakarta, 1 Desember 2024 — Konsulat Borneo Pondok Pesantren Mahasiswa KH. Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (Pesma UMS) baru- baru ini menyelenggarakan kunjungan ke Panti Asuhan Permata Hati Surakarta pada 1 Desember 2024, dengan mengusung tema “With Togetherness Share The Happines” yang bermakna untuk selalau berbagi kebahagiaan dengan sesama. Kegiatan ini dihadiri oleh para anggota dan sukarelawan yang dengan antusias memberikan dukungan dan kasih sayang kepada anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.

Acara kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian sosial dan mengajak masyarakat khususnya konsulat borneo untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat bagi sesama Acara ini diadakan guna mengingatkan kepada teman-teman bahwa disekeliling kita masih ada anak-anak yang memerlukan uluran tangan kita.

Kunjungan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti berinteraksi, bermain dengan anak-anak panti asuhan, para anggota konsulat dan anak-anak menikmati setiap momen tampak dari wajah mereka. Selain itu, para anggota konsulat Borneo juga memberikan donasi berupa kebutuhan sehari-hari, seperti beras, susu dan popok.

Acara ini mendapatkan dukungan yang luar biasa dari berbagai pihak, baik perorang atau pun kelompok yang turut berkontribusi dalam bentuk donasi. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan sumbangan yang diberikan oleh donatur. Dukungan ini sangat berarti bagi anak-anak di panti asuhan,” ujar Arofah Nur Mahasantri konsulat borneo 2024.

Dengan adanya kegiatan ini Bang Habib selaku ketua penyelenggara berharap untuk kedepan semoga acara positif seperti ini bisa diagendakan setahun sekali untuk mempererat tali silaturahmi dan mengingatkan kepada kita bahwa diluar sana ada yang membutuhkan uluran tangan kita.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan donasi secara simbolis kepada pengurus Panti Asuhan Panti Asuhan Permata Hati Surakarta. Semoga kegiatan ini dapat membawa kebaikan dan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.

SYAHRU RAMADHAN – Kabid Medkom periode 2024

Di balik setiap langkah yang kami ambil, ada seorang guru yang diam-diam memberi arah. Mungkin mereka tidak selalu berada di depan kelas, tetapi jejaknya ada di setiap keputusan yang kami buat, dalam setiap tantangan yang kami hadapi. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang tulus, yang mengajarkan kami lebih dari sekadar ilmu. Mereka mengajarkan kami tentang hidup.

Aku ingat, suatu hari, ketika rasa lelah dan ragu mulai merayapi pikiranku, seorang guru berkata, “Keberhasilan bukan tentang sejauh mana kamu bisa melangkah, tapi seberapa besar kamu bisa mengatasi tantangan yang ada.” Kalimat sederhana itu menjadi titik balik bagi perjalanan saya. Dari guru itu, saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tetapi justru kesempatan untuk bangkit lebih kuat.

Guru kami bukan hanya mengajar teori dan rumus yang tertulis dalam buku. Mereka mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang jauh lebih penting, seperti kesabaran, kerja keras, dan ketekunan. Dalam setiap pelajaran, mereka selalu menanamkan nilai untuk berpikir kritis dan mandiri, memberikan kebebasan kepada kami untuk menemukan solusi, bukan hanya menerima jawaban. Di setiap kelas, mereka menyelipkan cerita-cerita yang menggugah tentang perjuangan hidup, yang jauh lebih berharga dari sekadar hasil ujian yang …

Namun, tidak semua perjalanan kami mulus. Ada kalanya kami merasa terjatuh dalam kesulitan. Di situlah peran guru menjadi sangat jelas. Mereka tidak hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga memberikan semangat ketika kami merasa tak mampu. Mereka berbicara dengan hati,menunjukkan bahwa mereka peduli lebih dari sekadar tanggung jawab pekerjaan. Dengan senyum dan kata-kata penyemangat, mereka memberi kami kekuatan untuk melanjutkan, bahkan ketika dunia terasa begitu berat.

Setiap guru memiliki cara unik dalam menyampaikan pelajaran, tetapi mereka semua memiliki satu
kesamaan: mereka menginspirasi. Ada guru yang mampu membuat subjek yang paling sulit terasa
mudah dan menyenangkan, ada yang dengan sabar menjelaskan berulang kali, ada yang
membawa kami ke dunia baru dengan cerita yang menggugah hati. Mereka tidak hanya mengajar
dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan, dengan ketulusan, dan dengan keteguhan dalam
membantu kami berkembang.

Kami juga belajar banyak tentang kehidupan dari guru-guru kami. Mereka bukan hanya
mengajarkan kami untuk berfikir, tetapi untuk merasa. Kami belajar bahwa hidup tidak hanya
tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang menikmati prosesnya. Dari mereka, kami belajar
bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran yang tak terhindarkan, dan bahwa keberhasilan
sejati terletak pada usaha yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

Lebih dari sekadar memberikan ilmu, seorang guru adalah pemandu yang membawa kami melewati
jalan penuh liku. Mereka tidak hanya mengajarkan bagaimana cara belajar, tetapi juga bagaimana
cara hidup dengan penuh makna. Mereka memberikan kami contoh tentang bagaimana menjadi
manusia yang bijaksana, yang peduli, dan yang tidak pernah berhenti belajar.
Kami mungkin tidak selalu menyadari hal ini, tetapi di setiap sudut kehidupan kami, kata-kata dan
teladan mereka selalu bergaung. Mereka mungkin tidak selalu mendapatkan penghargaan yang
layak, tetapi bagi kami, mereka adalah pahlawan yang tak kenal lelah memberikan cahaya, tanpa
pernah mengharapkan imbalan. Setiap hari mereka memberi, tanpa mengharapkan imbalan selain

melihat kami tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Di dalam kelas, mereka mengajarkan kami untuk berani berbicara, untuk menyuarakan pendapat,
dan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi lebih dari itu, mereka mengajarkan kami
untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Kami diajarkan untuk berdiri tegak meski terkadang
dunia seakan mencoba meruntuhkan kami, karena mereka percaya bahwa setiap dari kami memiliki
potensi yang luar biasa, yang hanya perlu ditemukan dan dikembangkan.

Guru adalah cahaya yang tak pernah padam, bahkan ketika waktu berlalu. Mereka adalah fondasi
bagi setiap generasi, yang terus membimbing dan menginspirasi meskipun dunia terus berubah.
Kami bersyukur karena memiliki mereka dalam hidup kami. Dan meskipun mereka mungkin tidak
selalu terlihat, jejak mereka akan tetap ada dalam setiap langkah kami. Guru adalah cahaya yang
akan selalu memandu kami menuju masa depan yang lebih cerah.


**Daftar Pustaka:**
1. Dewi, R. (2018). *Pendidikan Karakter dalam Proses Pembelajaran: Perspektif dan Implementasi
di Sekolah*. Yogyakarta: Penerbit Widya.
2. Gagne, R. M. (1985). *The Conditions of Learning and Theory of Instruction*. New York: Holt,
Rinehart and Winston.
3. Hattie, J., & Timperley, H. (2007). *The Power of Feedback*. Review of Educational Research,
77(1), 81-112. https://doi.org/10.3102/003465430298487
4. Johnson, D. W., & Johnson, F. P. (2013). *Joining Together: Group Theory and Group Skills*.
11th edition. Boston: Pearson.

Scroll to Top