
Oleh Dani Hendrawan (Kader PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)
Terjun ke dunia akademis dan spiritual merupakan Keunikan Mahasantri sebagai mahasiswa menyelaraskan dan menyatukan dunia akademis dan spiritual di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi yang semakin menggerogoti kehidupan rohani. Salah satu tempat yang mencoba mewujudkan integrasi ini adalah Pondok Internasional KH. Mansur UMS merupakan sebuah pondok asrama yang berada dibawah naungan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pondok pesantren ini diperuntukkan bagi para santri yang tidak hanya sekedar menempuh pendidikan akademis namun juga ingin memperdalam ilmu agama dalam suasana khas pesantren. Di sini, Mahasantri (sebutan para santri yang tinggal di pondok ini) pun memadukan dua dunia, dunia akademis dan spiritual, untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan sekaligus penuh berkah.
Dua dunia dalam satu langkah nampaknmya cocok dilekatkan menjadi identitas kami, karena kehidupan mahasantri di Pondok Internasional KH. Mas Mansur UMS bukanlah tipikal pesantren tradisional. tetapi sebagai sekolah berasrama bagi pelajar, disini ditawarkan pengalaman unik dimana mahasiswa dapat menikmati kehidupan sekolah berasrama tanpa harus melepaskan studinya. Sebagai bagian dari UMS, Mahasantri tidak hanya menyelesaikan kajian agama secara mendalam, tetapi juga mengikuti perkuliahan di universitas dan memperdalam ilmunya di berbagai bidang keilmuan. Kehidupan di Pondok KH. Mas Mansur UMS mengharuskan mahasiswanya memainkan dua peran sekaligus, disaat sebagian mahasiswa harus menghadapi tantangan akademik di kampus, sebagian lainnya tetap berpedoman pada ajaran agama dan terus memperkuat spiritualitas dan karakternya. Kedua dunia yang tampak berbeda ini sebenarnya saling melengkapi dan memberikan Mahasantri pengalaman komprehensif dalam kehidupan sehari-hari.
Dunia Akademik mengasah mengembangkan berpikir kritis dalam nilai-nilai keagamaan sebagai mahasiswa UMS, para mahasantri berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan dari berbagai departemen di universitas. Dari hukum, bisnis,kesehatan, hingga teknologi, anda dapat mengembangkan pemikiran kritis dan keahlian di bidang-bidang ini. anda akan belajar berpikir logis, memecahkan masalah dengan pendekatan rasional, dan mendorong inovasi di masa perkembangan yang pesat.
Namun, tantangan terbesar yg dihadapi oleh para mahasantri muncul.. bagaimana mengintegrasikan ilmu pengetahuan yg mereka pelajari pada kampus dengan ajaran kepercayaan yg mereka pelajari pada pesantren. Dalam global akademis, mahasiswa dituntut untuk memakai pendekatan ilmiah yg rasional, tetapi pada global spiritual, mereka dituntut juga untuk berpikir menggunakan hati, mengedepankan nilai-nilai iman, dan membuahkan kepercayaan menjadi panduan hidup. Bagi mahasantri, keduanya tidak bertentangan. Justru, kehidupan akademis yg mereka jalani bisa menaruh perspektif dalam memahami ajaran agama , dan sebaliknya, nilai-nilai agama menaruh dasar moral yang memperkuat dalam menghadapi tantangan global akademis. sebagai contoh, dalam menghadapi kasus sosial atau isu-isu global yang semakin kompleks, para mahasantri tidak hanya melihatnya menurut sudut pandang akademis semata, namun juga mempertimbangkan prinsip-prinsip agama yang mengajarkan mengenai keadilan, kesejahteraan umat, dan tanggung jawab sosial. Pemikiran kritis yang mereka bangun di kampus dipadukan dengan kedalaman spiritualitas yang mereka temukan di pesantren, sehingga dapat menciptakan individu yang lebih utuh, berpikir jernih, dan memiliki moral yang tinggi.
Dunia spiritual menguatkan karakter dan membentuk akhlak mulia. Meskipun para mahasantri menjalani kehidupan akademis yang padat di universitas, mereka tidak dituntut untuk melupakan aspek spiritual dalam kehidupan mereka. Di Pondok KH. Mas Mansur UMS, waktu dimana untuk ibadah, mengaji, serta mengikuti kajian-kajian agama tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka. Sebagai pondok asrama bagi mahasiswa, sistem pendidikan di sini tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki ketakwaan yang tinggi. Setiap hari, para mahasantri menjalani rutinitas ibadah yang disiplin, misalnya salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan kajian-kajian keagamaan menaruh pemahaman yang lebih mengenai ajaran Islam. Di tengah kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya, mereka diajarkan untuk tidak melupakan pentingnya menjaga interaksi ibadah dan selalu mengutamakan nilai-nilai keagamaan pada setiap rutinitas yang mereka jalani. Spiritualitas yang mereka bangun di pondok juga menaruh ketenangan batin yang sangat diperlukan dalam menghadapi kesulitan hidup. Kita tau sendiri sebagai mahasiswa yang tak jarang dihadapkan dalam tekanan akademis, tugas-tugas yang menumpuk, dan aneka macam tantangan lainnya, penguatan spiritual sebagai pelindung yang membantu mereka menjaga ketenangan hati dan pikiran. Dalam doa dan dzikir, mereka menemukan kekuatan untuk terus maju, tanpa merasa stress atau terjerumus kepada kemaksiatan duniawi.
Keunikan dan tantangan mengelola peran ganda dengan bijaksana, menjalankan peran ganda sebagai seorang mahasantri tentunya bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu antara komitmen mahasiswa dan kewajiban sebagai santri. Perkuliahan dan berbagai tugas yang membutuhkan perhatian penuh, ujian, dan aktivitas di kampus seringkali membuat mahasiswa stress tertekan. Namun, jika dapat mengatur waktu dengan baik, kita akan belajar membagi waktu antara jam pelajaran, kegiatan pesantren, dan waktu istirahat. Selain itu, perbedaan pemikiran antara dunia akademis yang rasional dan dunia spiritual yang lebih berbasis pada keimanan juga sering kali menjadi tantangan. Namun seiring berjalannya waktu, mahasantri belajar menyeimbangkan keduanya, dari ilmu dunia serta ilmu akhirat menjadi dua hal yang saling menguatkan. Mereka diajarkan untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut bukan sebagai kontradiksi, namun sebagai peluang untuk memperdalam pemahaman dan mengembangkan kepribadian yang lebih dewasa. Ini adalah bukti kalau banyaknya waktu yang kita punya, itu tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas yang kita hasilkan. Dari perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa aku mahasiswa dan dimana kalau mahasiswa pada umumnya itu balik ke rumah atau ke kosan. aku balik ke asrama dan kamu tau sesibuk apa, disamping harus mengerjakan tugas kuliah yang kadang ga ngotak, aku juga harus menyiapkan setoran dan sibuk sama kegiatan asrama aku ini setiap hari kecuali sabtu minggu. Eksperimen ini berawal dari pemikiran liar aku.. yang bilang ‘‘kalau aku punya waktu yang lebih longgar daripada ini, kayaknya aku bisa lebih produktif” akhirnya aku menggunakan hari minggu aku untuk bisa super produktif, untuk sesuatu yang benar-benar aku inginkan dari pagi buta niatnya, dan kamu tau apa yang terjadi aku memulai kegiatan itu semua setelah zuhur. Dan kamu tau lah apa yang aku lakukan dari pagi scroll dan bermalas-malasan dan parahnya adalah 14.00 siang aku tidur, berharap bisa produktif setelah bangun tidur. Ternyata mengumpulkan mood-nya lama, karena kau merasa malam masih punya waktu, aku tunda ke malam dan akhirnya adalah ada hal-hal yang diluar dugaan terjadi di malam itu sehingga aku tidak bisa melakukan hal tersebut.dan itu semua berawal dari pemikiran bahwa ‘aku masih punya banyak waktu’ dan ternyata apa yang aku rasain ini udah proven. Ada yang namanya parkinson’s law dimana semakin banyak waktu yang kita punya kita justru kurang produktif, sebaliknya semakin sedikit waktu yang kita punya justru produktivitas kita itu akan meningkat. Maybe that’s why the power of kepepet is real. Bukan karena otak kita berubah jadi kayak Einstein tapi karena sedikitnya waktu yang kita punya, kita curahin semua yang kita punya saat itu detik itu.
Mahasantri sebagai generasi keutuhan dan integritas menjadi mahasantri di pondok Internasional KH. Mas Mansur UMS adalah perjalanan unik yang penuh tantangan, namun juga penuh dengan peluang. Melalui sistem pendidikan yang memadukan ilmu agama dan akademik, Mahasantri dipersiapkan untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak mulia, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Mereka menunjukkan bagaimana pendidikan yang seimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat dapat menghasilkan generasi yang sempurna berpikir kritis dan bertakwa tinggi. Kehidupan mereka di kampus dan di Pondok Pesantren mencerminkan kemungkinan-kemungkinan luar biasa yang muncul ketika dunia akademis dan dunia spiritual bersatu untuk saling menguatkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan mereka di masa depan.
