
Oleh Azhar Ardiansyah (Kader PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)
Didalam penjara suci Pesantren Mahasiswa saya melihat kabar pendaftaran calon filsuf baru. Sebuah agenda perkaderan dari PC IMM Sukoharjo yang terkernal seantero nusantara. Bermodalkan buku tebal yang memuakkan meski kutatapi semalaman. Didampingi oleh sahabat yang tak setia karena meninggalkanku seorang diri. Mengajakku sama-sama berambisi namun hanya sebatas narasi. Hingga aku berangkat seorang diri dengan jasmani dan ruhani. Aduhai inikah perkaderan dengan durasi dua minggu yang harus aku jalani?
Sebuah pertanyaan sulit menghantuiku di awal perjumpaan. Kata tanya sederhana yang berbunyi “apa dan bagaimana itu?” Pernahkah kalian memandang bagaimana semesta ini ada? Semesta dengan aneka warna nan harmoni ini berbaur menjadi satu. Dari manakah semua ini berasal? Thales, seorang saudagar kaya menjawab, “Semua itu dari air dan akan kembali lagi ke air” Lihatlah masyarakat mesir yang bertahan hidup diatas gurun yang panas nyaris tanpa harapan. Seolah dipanggang di atas pemanggang. Sumber harapan satu-satunya ialah air yang melepaskan dahaga mereka dari anak-anak Sungai Nil. Disinilah makna air sebagai sumber kehidupan muncul. Namun, jika kehidupan muncul dari air, lantas dari manakah asal air itu? Anaximandros menjawab, “Semua berasal dari yang tak terbatas.” Setetes air menjadi nirmakna jika fana. Sebab yang terbatas akan selalu habis dan terproduksi lagi. Harus ada yang memproduksinya, ialah Sang Tak Terbatas (Apeiron). Lantas apa Sang Tak Terbatas (Apeiron) itu? Jika tak terdefinisikan akan menjadi hal yang konyol untuk dibahas. Tak mungkin menjelaskan sesuatu yang tak jelas! Apa bedanya dengan mitos-mitos orang dungu sebelum mereka?
Anaximenes menjawab, “Udara!” Sebab ialah yang tak terbatas yang dapat didefinisikan. Kita hidup sehari-hari dengan udara. Udaralah yang memberikan kehidupan bermakna bagi seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan. Dialah yang anasir awal pembentuk semesta ini! Dialah jiwa yang kita hirup dalam setiap relung nafas sehingga kita masih bisa hidup hingga detik ini! Perdebatan terus berkecamuk hingga manusia mulai muak dengan mana yang benar dan mana yang salah. Sudahi perdebatanmu itu kawan! “Tak ada kebenaran yang sejati!”, seru segerombolan orang cerdik yang masyhur dikenal dengan Kaum Sofis. Mereka muncul sebagai reaksi atas perdebatan nirmakna itu. Lantas apakah kebenaran itu?
“dunia idea” Ya, dua diksi yang menuntut para calon cendekiawan mengilustrasikan bagaimana sebenarnya kita yang sedang terperangkap dalam gua menurut kacamata plato. Begitu absurdnya hidup dalam dialektika. Delegasi dari setiap komisariat IMM seperti tidak berdaya bahkan setelah mendengar bernadya. Aristoteles dengan sylogisme nya menuntut kita agar mencari kebenaran objektif menggabungkan induksi, deduksi ditambah hipotesa-hipotesa dan digabungkan dengan 10 kategori miliknya. Aduhai serumit inikah memvalidasi orang sedang kelaparan dengan rumus yang ia berikan?
Diskusi dihentikan menimbang urusan konsumsi. Sebab logika tanpa logistik takkan berjalan. Jadwal memasak telah memanggilku untuk mengolah bahan pangan. Semua sudah dijadwalkan sesuai prosedur panitia Baret Merah. Delapan belas cendekiawan dan lima fasilitator kelaparan. Beralih ke era abad 15 di Italia sebagai reaksi “abad kegelapan” di era sebelumnya yang berakibat kemunduran pengetahuan. Kemudian terbitlah “kelahiran kembali” pengetahuan yang disebut Renaisance. Berbasis data bukan keputusan gereja. Lantas, apa fungsi gereja? Tidak lain sebagai alat legitimasi religiusitas demi kontestasi politik. Gagasan tersebut muncul dari seorang politikus Machiavelli. Berbekal dari sejarah-sejarah dan tragedi yang dia pelajari satu persatu.
Kepala delapan belas orang peserta mulai pusing ketika pembahasan era Renaisance muncul segerombolan tokoh yang melahirkan aliran-aliran aneh. Dualisme antara akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Dua kubu ini saling bertengkar untuk menentukan bagaimana pengetahuan sejati didapat. Melalui akal (rasio) kah? Atau pengalaman (empiris)? Kubu akal (rasio) diwakili oleh Rene Descartes beserta pengikutnya. Sedangkan kubu pengalaman (empiris) diwakili oleh John Locke beserta pengikutnya.
Cukup! Tak perlu berdebat! Keduanya sama-sama benar menurut Immanuel Kant. Tapi konyolnya, dia tak mengakui bahwa kita benar-benar menggapai pengetahuan objektif. Akal (Rasio) dan pengalaman (empiris) hanya sebatas alat penafsir. Namun, ada satu tokoh yang tak terima, namanya Hegel. Dia mengatakan sebenarnya seluruh proses sedang mencapai kesempuranaan objektif melalui dialektika yang berjalan dalam sejarah. Hegel adalah seorang dosen yang berdedikasi tinggi yang memiliki mahasiswa pemberontak bernama Karl Marx. Sebab Karl Marx risau dengan tokoh-tokoh aneh itu. Mengapa membahas hal-hal abstrak tidak jelas! “Tugas sejati seorang filsuf adalah merubah dunia, bukan menafsirkan dunia”, katanya.
Disudut kota terpencil tertawalah seorang seniman gila. Nietszche meniadakan semua teori yang saya tulis dari awal hingga saat ini. Nihilsme menghantui para pemikir-pemikir hebat! Ketidakadaan kebenaran mutlak menjadi pondasi hidupnya. “Tuhan telah mati dan kita telah membunuhnya!” Narasi dari sang maestro sebagai metafora untuk menggambarkan runtuhnya kepercayaan tradisional, terutama agama Kristen dalam masyarkat modern. Ia berpendapat bahwa dunia barat tidak lagi mendasarkan moralitas dan nilai-nilai pada keyakinan religious sehingga menimbulkan kekosongan nilai yang harus diisi.
Apakah goyah keimanan kita sebagai kaum muslimin menghadapi teori yang diberikan bapak Nietzsche? Ya kita tidak memungkiri keimanan kita diuji disana. Ketika manusia senantiasa berpatokan kepada hal-hal yang metafisik sehingga realitasnya didunia seakan-akan tidak dipedulikan! Dogma tentang hari pembalasan menjadi pelarian masyarakat miskin yang percaya mereka akan mendapat kenikmatan disana. Ya agama begitu kompleks menghadapi teori akal (rasio) dan pengalaman (empiris) karena agama berbasis keimanan. Pekak menusuk telingaku, nyanyian surau begitu merdu, senja pun sirna digantikan rembulan yang cantik nan indah, pertanda shalat maghrib tiba. Simpan dulu semua ocehanmu, menarik pena lantas menutup buku, waktunya mengambil air wudhu. Delapan belas jiwa berdiri menghadap penciptanya, memberikan persembahan terbaik kepada tuhan-Nya. Bahkan, percaya atau tidak, seorang yang diprediksi akan menjadi atheis pun ikut dalam barisan ritual wajib untuk membersihkan jiwa yang kotor ini.
Tak terasa dua pekan berlalu, seperti tak ingin usai, tetapi awal mesti memiliki akhir. Malam yang sunyi tanpa ada dialektika diantara kita. Sebenci inikah dengan perpisahan? Pada akhirnya aktivitas pencerdasan ini memberikan makna bagaimana kita hidup harus memiliki makna. Apakah kita akan mati hanya membawa duka, atau membawa makna? Akankah diatas batu nisan hanya menggores nama, tetapi juga diatas kertas kita menggores tinta. Ya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Entah dengan diksi apa saya menggambarkan wujud terimakasih kepada panitia, suatu saat dan penuh harap pasti kami akan memberikan dedikasi penuh pada nusa dan bangsa.
Sukoharjo, 22 Desember 2024
