
Oleh Annisa Nur Fitria (Sekbid LHI PK IMM KH Mas Mansur periode 2024)
Peristiwa yang terjadi belakangan ini, membuat hati tersayat dan miris akan berkembangnya zaman sekarang. Semakin zaman berkembang, semakin hilang pula adab yang harusnya selalu dijunjung tinggi oleh setiap insan di muka bumi ini. Bagaimana tidak,seorang Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama Dan Pembinaan Sarana Keagamaan serta tokoh agama terkenal mengolok-olok seorang penjual es teh dalam suatu acara yang dihadiri oleh khalayak banyakhanya karena ia berprofesi sebagai penjual es teh. Hal ini menjadi pelajaran berharga yang patut kita renungkan dan dari kejadian ini, kita diingingatkan bahwa ilmu, setinggi apapun akan hilang maknanya jika tidak diiringi dengan adab yang baik.
Adab merupakan fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap indvidu sebelum menuntut ilmu. Dalam tradisi islam, adab memiliki posisi yang lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Hal ini mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab dapat menjadi alat yang merugikan, sedangkan adab yang baik akan membuat ilmu bermanfaat dan membawa keberkahan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sejarah para ulama besar menunjukkan bahwa keberhasilan mereka bukan semata karena ilmu yang mereka miliki, tetapi juga karena adab yang mereka jaga dalam setiap langkah hidupnya.
Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Malik RA, beliau berkata “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu” . pernyataan ini menegaskan bahwa adab adalah dasar bagi seseorang untuk menerima, memahami, dan mengamalkan ilmu dengan benar. Seorang yang memiliki adab akan menghormati ilmu, menghormati guru, dan memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan. Sebaliknya, ilmu tanpa adab sering kali membawa seseorang pada kesombongan, merendahkan orang lain, dan bahkan merusak dirinya sendiri.
Adab menjadi pengendali bagi hati dan akal dalam menggunakan ilmu. Tanpa adab, seseorang yang pandai justru dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan. Ia mungkin merasa lebih tinggi daripada orang lain karena ilmunya, padahal ilmu sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan rendah hati.
Salah satu bentuk adab yang sangat penting dalam menuntut ilmu adalah adab terhadap guru. Dalam sejarah Islam, para ulama selalu menekankan penghormatan kepada guru sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri. Imam Syafi’i, misalnya, begitu menghormati gurunya hingga ia membalikkan halaman kitab di depan gurunya seperti memindahkan sayap kupu-kupu karena takut dianggap tidak sopan. Sikap ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan Imam Syafi’i terhadap gurunya. Adab seperti ini tidak hanya memperlihatkan rasa hormat, tetapi jugamembuka jalan bagi keberkahan ilmu yang beliau peroleh.
Adab terhadap ilmu juga berarti menjaganya dari penyalahgunaan. Ilmu yang dimanfaatkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak tatanan masyarakat. Oleh karena itu, orang yang memiliki adab akan selalu berusaha menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan dan tidak untuk kepentingan pribadi semata.
Keberkahan ilmu terletak pada bagaimana ilmu tersebut diperoleh dan diamalkan. Adab yang baik membuat seseorang mampu menerima ilmu dengan hati yang lapang dan mengamalkannya dengan penuh tanggung jawab. Sejarah mencatat bahwa para ulama yang memiliki adab yang baik tidak hanya dihormati karena kepintarannya, tetapi juga karena akhlak dan keteladanan mereka dalam kehidupan.
Seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama besar terkenal karena adabnya kepada Imam Syafi’i, yang juga merupakan gurunya. Ketika Imam Syafi’i berkunjung ke rumahnya, Imam Ahmad memperlakukan gurunya dengan penuh hormat. Diceritakan bahwa Imam Ahmad bahkan menyiapkan air untuk wudu gurunya sebelum waktu subuh tiba. Sikap ini menunjukkan bagaimana Imam Ahmad sangat menghormati gurunya, meskipun ia sendiri adalah seorang ulama besar yang dihormati oleh banyak orang. Selain itu, Imam Ahmad dikenal sangat memperhatikan katakatanya di hadapan gurunya. Beliau tidak pernah berani berbicara atau bertanya tanpa izin, sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan ilmu yang diajarkan. Sikap ini menjadi teladan bagi generasi berikutnya tentang pentingnya menjaga adab terhadap orang yang lebih berilmu.
Imam Ahmad bin Hanbal menjadi bukti nyata bahwa ilmu tanpa adab tidak akan bernilai, sementara adab yang tinggi dapat mengangkat derajat seseorang, bahkan melebihi apa yang diberikan oleh ilmu itu sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari).
Adab tidak hanya berfungsi sebagai pengantar untuk memperoleh ilmu, tetapi juga sebagai penjaga ilmu itu sendiri. Seseorang yang memiliki adab akan lebih bijak dalam menggunakan ilmunya. Ia tidak akan memamerkan ilmunya untuk mendapatkan pujian, tetapi menggunakannya untuk menebar manfaat. Sebaliknya, tanpa adab, ilmu dapat menjadi alat untuk menyombongkan diri atau bahkan menghancurkan dan menyakiti orang lain. Banyak tragedi dalam sejarah terjadi karena orang-orang yang berilmu tetapi kehilangan adabnya. Mereka menggunakan kepintarannya untuk mengeksploitasi orang lain atau mencapai tujuan yang tidak mulia.
Adab merupakan inti dari segala pembelajaran. Ia bukan hanya pelengkap, tetapi syarat utama bagi penuntut ilmu agar ilmu yang telah didapatkan dapat memberikan manfaat dan keberkahan. Tanpa adab, ilmu kehilangan arah dan makna. Oleh karena itu, ada baiknya sebelum berusaha memperdalam ilmu, setiap individu harus memastikan bahwa dirinya memiliki adab yang baik. Dengan adab, ilmu tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menyempurnakan akhlak dan membawa keberkahan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana pesan para ulama, “Adab di atas ilmu” adalah prinsip yang harus dipegang erat dalam setiap perjalanan menuntut ilmu.
Daftar Pustaka
Huda, M., Yusuf, J. B., Azmi Jasmi, K., & Nasir Zakaria, G. (2016). Al-Zarnūjī’s concept of
knowledge (‘Ilm). SAGE Open, 6(3), 2158244016666885.
Himmah, R. H., Jauhari, I. B., & Asror, A. (2023). ADAB SEBAGAI AKTUALISASI ILMU
PADA KONSEP ISLAM. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan
Pemikiran Hukum Islam, 14(2). https://doi.org/10.30739/darussalam.v14i2.1837
Husaini, A. (2012). Makna”Adab”dalam Perspektif Pendidikan Islam. Ta’dibuna: Jurnal
Pendidikan Islam, 1(1).
Ruswandi, Y., & Wiyono, W. (2020). Etika Menuntut Ilmu Dalam Kitab Ta’lim
Muta’alim. Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan (JKPI), 4(1), 90-100.
