Penulis : Abu Salim (Ketua Umum PK IMM KH Mas Mansur periode 2016)
Pernahkah kita merasa hati ini terasa berat? Mungkin karena kesibukan, rasa iri, atau sulit memaafkan? Dalam Islam, hati yang lembut adalah cerminan jiwa yang bersih, dan hal ini tidak hanya penting secara spiritual tetapi juga berdampak pada hubungan sosial kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Maka, pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bahas bagaimana penerapannya secara sederhana.
Pertama, Mengenali Dosa dan Kesalahan Pribadi
Langkah pertama untuk membersihkan jiwa adalah dengan mengenali dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam itu berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Renungkan tindakan kita setiap hari. Apakah kita pernah menyakiti orang lain? Apakah ada amanah yang kita abaikan? Menyadari kesalahan adalah langkah awal menuju perubahan.
Tips/Langkah Praktisnya:
- Sisihkan waktu sebelum tidur untuk muhasabah (introspeksi diri).
- Mengingat dosa-dosa kecil dan besar yang mungkin kita lakukan, kemudian berusaha tidak mengulanginya.
Kedua, Memperbanyak Istighfar dan Dzikir
Istighfar adalah kunci untuk membersihkan hati. Allah SWT berjanji dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3). Selain itu, dzikir juga membantu menjaga hati agar tetap tenang dan bersih dari penyakit hati seperti iri atau sombong.
Tips/Langkah Praktisnya:
- Ucapkan istighfar minimal 100 kali sehari.
- Jadikan dzikir ringan seperti “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar” sebagai bagian dari rutinitas, misalnya saat berjalan atau menunggu.
Ketiga, Menjaga Hubungan Baik dengan Sesama
Hati yang lembut akan terlihat dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tips/Langkah Praktisnya:
- Belajar memaafkan meski terasa sulit. Ingat, memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri.
- Perbanyak sedekah, meskipun kecil, sebagai wujud kasih sayang kepada sesama.
Keempat, Mengurangi Hal-Hal yang Mengotori Jiwa
Keseharian kita dipenuhi hal-hal yang bisa “mengotori” jiwa, seperti tontonan yang tidak bermanfaat, gosip, atau berbicara kasar. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan penglihatan dari hal-hal buruk.
Tips/Langkah Praktisnya:
- Hindari tontonan atau bacaan yang tidak membawa manfaat.
- Latih diri untuk berbicara yang baik atau diam, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelima, Mendekatkan Diri pada Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah obat hati. Allah SWT berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82) Membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih.
Tips/Langkah Praktisnya
- Jadwalkan waktu harian untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat.
- Pelajari terjemah atau artinya agar lebih memahami maknanya.
Sebagai penutup, mari renungkan nasihat Ibnul Qayyim Al-Jauziyah: “Dalam hati manusia terdapat kekerasan yang tidak bisa dilembutkan kecuali dengan menghadap kepada Allah.”
Membersihkan jiwa adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Hati yang bersih akan membawa ketenangan dalam diri dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik di mata Allah dan manusia. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk terus membersihkan jiwa dan melembutkan hati. Aamiin… Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi:
1. Al-Qur’an dan terjemahannya.
2. Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi.
3. Ihya Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali.
4. Madarij As-Salikin oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.
