Peta Jalan Investasi Dunia dan Akhirat bagi Mahasiswa

 

Oleh : Pimpinan Umum PK IMM Pondok Internasional KH Mas Mansur 2026

Anggapan bahwa investasi adalah urusan orang yang sudah bekerja dan bergaji tetap sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal domestik melonjak dari 14,83 juta orang pada akhir 2024 menjadi 20,32 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025, tumbuh 37 persen dalam setahun (Indopremier, 2025). Yang menarik, mahasiswa dan anak muda mendominasi angka itu: investor berusia di bawah 30 tahun tercatat sebesar 54,92 persen dari total investor pada 2024, meski nilai aset yang mereka pegang hanya sekitar 3 persen dari total aset investor nasional (Kompas.id, 2024). Artinya, mahasiswa sudah mulai masuk ke pasar modal, hanya saja umumnya dengan modal kecil dan pemahaman yang masih terbatas.

Namun ada satu sisi yang jarang dibahas bersamaan: bagi mahasiswa yang beragama Islam, pertanyaan tentang masa depan finansial semestinya tidak berhenti pada dunia saja. Ada juga pertanyaan tentang bekal apa yang dibawa setelah kematian, dan apakah harta yang dikumpulkan hari ini punya nilai yang bertahan melampaui usia manusia. Tulisan ini mencoba memetakan keduanya sekaligus: bagaimana mahasiswa mulai berinvestasi secara realistis di dunia, sambil tetap menyiapkan investasi untuk akhirat.

Mengapa Mahasiswa Perlu Mulai Berinvestasi ?

Alasan paling sering dipakai untuk menunda investasi adalah “nanti kalau sudah punya gaji tetap”. Padahal secara matematis, faktor yang paling menguntungkan dalam investasi bukan besar kecilnya modal awal, melainkan lama waktu dana itu mengendap dan berkembang. Semakin muda seseorang mulai, semakin panjang waktu yang dimiliki untuk memanfaatkan efek compounding, meski hasil ini tetap tidak pasti dan bergantung pada instrumen serta kondisi pasar yang dipilih.

Riset tentang literasi keuangan mahasiswa juga menunjukkan pola yang konsisten: literasi keuangan berkorelasi dengan minat dan keputusan berinvestasi. Penelitian terhadap mahasiswa di Jabodetabek mendapati bahwa literasi keuangan dan inklusi keuangan sama-sama mendorong minat investasi GEN-Z (Viana, Febrianti, & Dewi, 2021). Temuan serupa muncul pada kajian di Semarang dan Surabaya, di mana pengetahuan investasi dan persepsi risiko menjadi penentu keputusan investasi generasi muda (Astutik, 2024). Dengan kata lain, yang membuat investasi berisiko bagi mahasiswa bukan status mereka sebagai pelajar, melainkan minimnya pemahaman sebelum terjun.

Kenali Kondisi Keuangan Sebelum Berinvestasi

Sebelum membahas produk investasi, ada baiknya mahasiswa jujur pada kondisi keuangannya sendiri. Uang kuliah, kos, makan, dan transportasi tetap harus jadi prioritas nomor satu. Kalau alokasi investasi justru membuat kebutuhan pokok terganggu, itu tanda bahwa jumlah atau instrumennya perlu ditinjau ulang, bukan malah kebutuhan pokoknya yang dikorbankan.

Setelah kebutuhan dasar aman, barulah dana yang tersisa bisa disisihkan, sekecil apa pun jumlahnya. Yang lebih menentukan pada tahap awal bukan besar nominal, melainkan konsistensi dan kejelasan tujuan: dana ini untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, atau panjang. Handrijaningsih, Permanasari, dan Nurrahman (2024) mencatat bahwa perilaku keuangan mahasiswa banyak dipengaruhi oleh sejauh mana mereka memahami dan mengelola tujuan finansialnya sendiri, bukan semata besar pendapatan atau uang saku yang diterima.

Bagian yang sering diabaikan adalah profil risiko. Setiap orang punya batas toleransi berbeda terhadap kemungkinan rugi. Badriatin, Rinandiyana, dan Marino (2022) menemukan bahwa persepsi risiko dan sikap toleransi terhadap risiko ikut menentukan keputusan investasi mahasiswa, bukan cuma soal berapa besar untung yang ditawarkan.

Pilihan Investasi untuk Mahasiswa Pemula

Reksa dana masih jadi pintu masuk paling umum karena dana dikelola oleh manajer investasi dan bisa dimulai dengan nominal kecil. Data KSEI mencatat jumlah investor reksa dana melonjak 37 persen sepanjang 2025, dari 14,03 juta menjadi 19,17 juta investor (Indopremier, 2025) pertumbuhan tercepat dibanding instrumen lain, yang sejalan dengan karakteristiknya sebagai instrumen yang ramah pemula.

Surat Berharga Negara (SBN) ritel adalah opsi lain yang diterbitkan pemerintah, dengan jumlah investor yang juga tumbuh, meski dari basis yang jauh lebih kecil dibanding reksa dana dan saham (Indopremier, 2025). Sementara saham cocok untuk mahasiswa yang punya horizon waktu lebih panjang dan mau meluangkan waktu mempelajari cara kerja pasar modal, karena fluktuasi harganya bisa signifikan dalam jangka pendek.

Tidak ada instrumen yang otomatis “paling benar” untuk semua orang. Pilihannya tetap harus disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan kesiapan masing-masing menghadapi kemungkinan rugi.

Modal kecil Tapi Jangan Asal Ikut Tren

Investasi tidak harus dimulai dengan uang besar. Yang lebih realistis bagi mahasiswa adalah mulai dari nominal kecil tapi rutin, sambil terus menambah pemahaman seiring waktu. Kombinasi antara menabung dan berinvestasi sejak dini juga disarankan sebagai fondasi perilaku keuangan yang sehat sebelum seseorang mengambil risiko lebih besar (Damanik dkk., dalam Universitas Bunda Mulia, 2025).

Kewaspadaan tetap perlu dijaga. Ajakan teman atau tren di media sosial bukan alasan yang cukup untuk menaruh uang di suatu instrumen. Legalitas platform dan pemahaman atas cara kerja produk harus dicek lebih dulu, terutama untuk tawaran yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat, pola yang selama ini paling sering dipakai skema investasi bodong untuk menjerat investor pemula.

Bagaimana Dengan Bekal Akhirat?

Di luar investasi yang berbentuk uang, ada bentuk investasi lain yang secara eksplisit disebut dalam ajaran Islam sebagai amal yang pahalanya tidak putus meski pelakunya sudah meninggal. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya.” (H.R. Muslim)

Tiga hal dalam hadis ini yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh, punya satu kesamaan : manfaatnya terus mengalir ke orang lain setelah si pemberi tiada. Sedekah jariyah tidak harus berupa donasi besar; menyisihkan sebagian uang saku untuk mendukung pendidikan, membantu fasilitas umum, atau ikut kegiatan sosial kampus sudah termasuk di dalamnya.

Ilmu yang dipelajari selama kuliah juga masuk kategori ini, selama terus dibagikan dan diamalkan, bukan berhenti setelah nilai atau gelar didapat. Mengajar teman yang kesulitan belajar, jadi relawan pendidikan, atau memakai keahlian untuk menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar adalah bentuk konkretnya.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan investasi harta di jalan Allah dengan perumpamaan yang jelas, dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Kelipatan yang digambarkan ayat ini tidak bisa disamakan dengan imbal hasil instrumen keuangan mana pun. Poinnya bukan matematika bunga majemuk, melainkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah punya nilai yang tidak berhenti di dunia.

Investasi dunia dan investasi akhirat bukan dua pilihan yang harus dipisahkan atau diadu, apalagi diperlakukan seolah salah satunya lebih penting. Mahasiswa bisa belajar mengelola uang kuliah dan uang saku dengan disiplin, sekaligus menyisihkan sebagian untuk sedekah dan berbagi ilmu. Data menunjukkan generasi muda sudah mulai bergerak ke arah investasi finansial (Indopremier, 2025; Kompas.id, 2024), tapi angka itu baru bermakna kalau diiringi pemahaman risiko yang memadai (Viana, Febrianti, & Dewi, 2021; Astutik, 2024) dan, bagi mahasiswa Muslim, diimbangi dengan kesadaran bahwa ada bentuk kekayaan yang nilainya justru bertambah setelah kematian, bukan berkurang.

Tidak ada rumus tunggal yang berlaku untuk semua orang, baik dalam memilih instrumen investasi dunia maupun dalam menentukan bentuk sedekah dan ilmu yang ingin diwariskan. Yang penting dimulai sejak sekarang, sekecil apa pun langkahnya, karena baik compounding di pasar modal maupun pahala yang terus mengalir sama-sama membutuhkan waktu untuk terlihat hasilnya.

 

Daftar Pustaka

Astutik. (2024). Pengaruh Literasi Keuangan, Pendapatan, Perilaku Keuangan, serta Persepsi Risiko Terhadap Keputusan Investasi pada Generasi Z di Kota Surabaya. Jurnal Administrasi dan Manajemen.

Badriatin, T., Rinandiyana, L. R., & Marino, W. S. (2022). Persepsi Risiko Dan Sikap Toleransi Risiko Terhadap Keputusan Investasi Mahasiswa. Jurnal Perspektif, 20(2), 158–163. https://doi.org/10.31294/jp.v20i2.13596

Handrijaningsih, L., Permanasari, A., & Nurrahman, I. (2024). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Keuangan Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis, 29(1), 61–72. https://doi.org/10.35760/eb.2024.v29i1.9106

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=KSEI__Jumlah_Investor_Pasar_Modal_di_2025_Melonjak_37__Jadi_20_32_Juta_SID&news_id=210837

Kompas.id. (2024, 30 Desember). Investor Berusia di Bawah 30 Tahun Mendominasi meski Nilai Aset Minim.

https://www.kompas.id/artikel/investor-di-bawah-30-tahun-mendominasi-dengan-nilai-aset-kecil

https://journal.ubm.ac.id/index.php/business-management/article/download/8142/CYA

Viana, E. D., Febrianti, F., & Dewi, F. R. (2021). Literasi Keuangan, Inklusi Keuangan dan Minat Investasi Generasi Z di Jabodetabek. Jurnal Manajemen dan Organisasi, 12(3), 252–264. https://doi.org/10.29244/jmo.v12i3.34207

Scroll to Top