
Surakarta – Pondok Pesantren Internasional KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta sukses menggelar acara Dauroh Tahsin yang ditujukan bagi mahasantri Pesma untuk lebih dekat lagi dengan Al-Qur’an dengan memperdalam dan menyempurnakan bacaan AlQur’an. Rangkaian acara dikemas dalam dua hari tanggal 23-24 November 2024, diawali dengan kegiatan kajian Dauroh Tahsin, bertempat di masjid KH Mas Mansur yang disampaikan oleh Ust. Edi Sumianto, S.Pd.I seorang trainer nasional dan penulis buku. Beliau mengajarkan tentang penulisan dan bacaan angka arab maupun huruf arab, serta praktek membaca huruf hijaiyah yang benar. Dilanjutkan dengan parade tasmi 10 juz Al-Qur’an yang dilantunkan oleh teman-teman zona tahfidz Pesma, dimulai dari ba’da zuhur hingga menjelang sore. Tasmi akhwat dilaksanakan di Komisariat IMM Pesma, sedangkan tasmi ikhwan di masjid KH Mas Mansur.
Malam hari ba’da magrib terdapat sesi “Sharing With Qur’an – Bahagianya Bersahabat Dengan Al-Qur’an”, bersama dr. Nabil Nawal Syarif. Beliau merupakan alumni Pesma yang sudah tahfidz Qur’an dan sekarang berprofesi sebagai dokter, sekaligus mengabdikan dirinya disalah satu pondok pesantren karena beliau sadar penuh bahwa apa yang beliau dapatkan bukan lain dan bukan hal karena Allah SWT. Pengalaman beliau pernah mengajar Al-Qur’an kepada beberapa Ibu kesehatan saat dalam proses pendidikan S1. “Kita harus selalu menekankan untuk meluangkan waktu berinteraksi dengan Al-Qur’an, bukan mencari waktu luang untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan disetiap episode kita harus melibatkan Allah SWT”, tegas dr. Nabil Nawal Syarif, Sabtu (23/11/24).
Suatu hal yang menarik pada pembeda
acara Dauroh Tahsin tahun ini, yaitu terdapat sesi Sharing With Qur’an yang bertujuan untuk memotivasi mahasantri Pesma dalam memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, karena jika hanya diajarkan tentang ilmu tahsin saja belum cukup. Terpilihnya dr. Nabil Nawal Syarif sebagai pemateri sesi Sharing With Qur’an karena diharapkan beliau dapat menjadi teladan bagi mahasantri Pesma, dengan kesibukan dr. Nabil yang menumpuh pendidikan di prodi kedokteran dan aktif organisasi tetapi beliau bisa menjaga hafalan Al-Qur’an. Pemilihan pemateri kajian Dauroh Tahsin, Ust. Edi Sumianto, S.Pd.I dilatarbelakangi karena beliau merupakan penulis buku Smart Tahsin yang dipakai mahasantri Pesma dalam belajar tahsin,sekaligus beliau bisa mengajarkan secara langsung sehingga mahasantri Pesma terbantu dalam proses belajar tahsin.
Persiapan sebelum acara Dauroh Tahsin tentunya seperti pembagian jobdesk kepantian pada umumnya. Parade tasmi 10 juz Al-Qur’an menekankan mahasantri Pesma yang tergabung dalam program zona tahfidz harus mempersipakan muroja’ah hafalan Al-Quran, karena tasmi mengusahakan untuk tanpa melihat Al-Qur’an dan diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Tantangan tersendiri dalam menggelar acara Dauroh Tahsin ini dilatarbelakangi dari kesibukan mahasantri Pesma yang berbeda dan untuk menggerakkan hati supaya lebih dekat dengan AlQur’an itu tidak mudah karena perlu niat dari masing-masing individu.
Menurut Jabran Ilham Sari, mahasantri Pesma yang tergabung dalam program zona tahfidz, mengungkapkan bahwa “Secara keseluruhan, acara ini menyenangkan dan pasti bermanfaat karena dapat belajar tahsin bersama penulis bukunya langsung dengan penyampaian yang mudah dipahami. Pemateri juga banyak berinteraksi dengan peserta sehingga tidak monoton. Ada juga sesi sharing bersama dr. Nabil yang ga kalah seru. Benefit yang ditawarkan sangat banyak. Rasanya seharian itu menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an, karena sejak pagi kegiatan dimulai dengan belajar tahsin, kemudian menyimak teman yang tasmi’ dari siang-sore, dan dilanjut dengan sharing Al-Qur’an setelah maghrib. Semua materi tentunya bermanfaat ya, tapi aku lebih enjoy ketika sesi sharing bersama dr. Nabil karena sesuai banget dari cerita beliau sebagai mahasiswa dan mahasantri yang sibuk tapi juga tetap memiliki waktu tersendiri untuk muroja’ah. Harapan saya tentunya lebih semangat lagi dalam belajar tahsin, memperbaiki bacaan yang mungkin selama ini kurang tepat. Lebih termotivasi lagi untuk terus memuroja’ah atau menjaga hafalan karena itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban sebagai penghafal AlQur’an”, Senin (25/11/24).
Serangkaian Acara Dauroh Tahsin ini ditutup dengan tahajud jam’i pada tanggal 24 November
2024 dini hari.
Penulis : Siti Nurul Hidayati
