PESMA KH MAS MANSUR UMS

Road to be Smart Moslems

Berita, IMM PESMA, ISO PESMA, Kisah Inspiratif

KULIAH UMUM: Menanamkan Jiwa Kader Muhammadiyah yang Kekinian

Pesma.ums.ac.id – Pesantren Mahasiswa KH. Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta mengadakan Kuliah Umum bertema “Menggali Potensi Diri Seorang Kader” pada tanggal 19 Maret 2022 yang bertempat di Masjid KH. Mas Mansur UMS.

Kita jadi orang yang bermanfaat dimanapun dan kapanpun, kita harus berikhitiar dan tawakal. Beranilah melakukan sesuatu yang belum dilakukan oleh orang lain. Kader itu membaca buku 50 halaman/hari (buku apapun), jika tidak membaca sebanyak itu, maka ia bukanlah kader.

Cak Nanto (KETUM PP Pemuda Muhamadiyah)

Pembukaan acara diawali oleh MC, yaitu Risma Silviani Putri dan Tilawah Ahmad Arfian Hafis dan dilanjutkan sambutan Bu Aam Tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk menggali potensi dalam diri dan persiapan ramadhan. Kita itu bukan dari siapa orang tua kita dan apa yang kita punya, tetapi kita dilihat dari potensi yang ada dalam diri. Yang bertanggungjawab dengan kesuksesan kita adalah diri kita sendiri. Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari ramadhan tahun lalu. Pembukaan Kuliah Umum sekaligus pembukaan kegiatan ramadhan.

Pembicara kegiatan kuliah umum yaitu Sunanto, S.H.I., M.H. yang lebi dikenal dengan panggilan Cak Nanto sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah periode 2018—2022 dan Muhammad Fajrul Falakh, S.I.Kom (Alumni Pesma UMS dan Komika @tandukputih).

Pemateri pertama yang dimoderatori Fadhil Manfa, Cak Nanto menyampaikan materi setiap orang mempunyai kesempatan yang sama, apalagi kader Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi, bukan agama. Kita harus menjadi orang yang bermanfaat dan memanfaatkan keadaan dan kemampuan yang ada dalam diri untuk mengubah nasib kita yang disertai dengan Ikhtiar dan doa. Kemudian belajar dari kegagalan orang lain untuk menjadikan diri kita lebih baik dan melakukan banyak inovasi.

Pesan Cak Nanto kepada kader Muhammadiyah itu membaca buku 50 halaman/hari (buku apapun), jika tidak membaca sebanyak itu, maka ia bukanlah kader. Karena apa yang kita lakukan saat ini adalah untuk diri kita sendirilah, yang bertanggungjawab dengan pilihan hidup kita, tentang akan jadi apa kita nanti, bukan orang lain, tetapi diri kita. Setelah melalui proses yang panjang harus berani untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain.

Kemajuan teknologi dan kemudahannya menjadikan kita untuk upgrade dan menunjukkan diri anda ke publik. Pada zaman sekarang, jika kita hanya mengandalkan ijazah, tanpa ada skill menguasai banyak hal, maka kita akan tertinggal. Agar tidak tertinggal, maka gapai tujuan tersebut dengan menjadikan Muhammadiyah itu sebagai peluang untuk mengaktualisasikan potensi diri, menyiapkan kemandirian diri, tidak bergantung dengan orang lain, bahkan kepada orang tua, kita hanya boleh bergantung kepada Allah SWT.

Kemudian, Kak Afa sebagai pemateri kedua dimoderatori Ragastra menyampaikan, kader itu sebagai penggerak, sebagai kader itu harus totalitas (maksimal) sebagai pelaku subjek dakwah. KH. Ahmad Dahlan sangat visioner. Jadilah dokter, jadilah master, jadilah insinyur, dan professional, lalu kembalilah ke Muhammadiyah. Maksimalkan potensi yang teman-teman punya, kemudian kembali untuk membangun Muhammadiyah.

Bagaimana dunia saat ini? Sangat cepat , up to date (bidang teknologi – dulu, teknologi itu maju karena perang, sekarang, teknologi itu maju karena bisnis), Simple yet complex (sederhana tapi sangat kompleks (jangan terlena dengan kemudahan yang ada dalam dunia ini, tapi cobalah untuk berinovasi). Peran kita sebagai kader itu berkontribusi, memajukan, menyebarkan.

Menjadi kader kekinian itu harus punya hobi (genjatan yang membuat kita akan tetap waras), belajar skill tambahan (desain, belajar membuat konten, editing video), membuat bucket list. Membuat konten sebagai media dakwah harus menyebarkan konten-konten positif dengan percaya diri saat mempublikasikan konten dan membangun personal branding dan branding akun social media. Akhir dari acara ditutup doa oleh Nabil Nawal atas berjalannya kegiatan tesebut. [Ty & Kang Aim]

Kader itu berkontribusi, memajukan, menyebarkan. Untuk menjadi kader kekinian harus punya hobi (genjatan yang membuat kita akan tetap waras), belajar skill tambahan (desain, belajar membuat konten, editing video), dan membuat bucket list (membuat list yang diinginkan/membuat kita bahagia).

Muhammad Fajrul Falakh

Leave a Reply

Theme by Anders Norén